TENTANG BUNUH DIRI

/, Blogs/TENTANG BUNUH DIRI

Kalau kita melihat kembali kasus-kasus orang yang bunuh diri dengan back ground apapun dan karena alasan apapun, maka tanpa sadar banyak orang akan menilai kejadian-kejadian bunuh diri tersebut dengan komentar-komentar dari dalam diri misal :

‘kan orang itu bagus banget kehidupannya, uang bukan masalah, malah berkelimpahan, ketenaran semua sudah didapat, apalagi yang bisa bikin mereka stress?’

‘wah kok sampai bunuh diri ya, kaya engga punya Tuhan aja’

‘putus cinta aja sampai bunuh diri’

‘kok bisa hidup sampai dibikin stress sendiri kaya gitu, kan hidup itu bisa dibawa enjoy aja’

‘kok lemah banget sampai bunuh diri?’

Atau berbagai komentar lainnya yang keluar dari dalam pikiran kita merespon berita orang bunuh diri tersebut.

Apalagi belakangan kita membaca dan mendengar berita tentang orang-orang yang pencapaiannya luar biasa dalam kehidupan, atau kehidupannya begitu ideal atau menyenangkan secara pemahaman umum namun mereka bunuh diri

Tapi yang perlu disadari adalah : tiap pikiran kita yang keluar dari dalam diri sebagai respon apapun yang masuk ke indra kita (apa yang kita lihat dan baca, kita dengar, kita alami sendiri) adalah murni berasal dari database kita. Artinya kumpulan pemahaman kita dari berbagai peristiwa spesifik yang kita alami dalam kehidupan.

Dan kita tidak pernah bisa merasakan benar-benar akumulasi dan intensitas rasa sakit emosi ataupun fisik yang dialami orang-orang yang bunuh diri tersebut. Karena pengalaman spesifik mereka bukanlah pengalaman kita. Sekalipun kita pernah alami keadaan di masa lalu yang begitu buruk seperti orang yang bunuh diri, namun simpangan pemikiran dan perilaku sesedikit apapun saat alami suatu keadaan yang sama akan hasilkan keadaan berbeda.

Sama seperti orang yang begitu luar biasa takut terhadap misal kecoa atau tikus atau ular atau keadaan gelap atau keadaan ruang sempit tertutup, dan lain lain, emosi-emosi dan keadaan mereka tidak akan pernah bisa dipahami oleh orang-orang yang tidak mengalami permasalahan seperti mereka.

Mengapa ada orang-orang yang alami permasalahan respon emosi negatif yang begitu kuat terhadap keadaan tertentu, binatang tertentu, atau perilaku orang lain terhadap mereka? Semua respon tersebut berasal dari peristiwa spesifik traumatis (suatu hari suatu saat terjadi suatu kejadian penting dengan emosi negatif yang intens, umumnya dari masa kecil) yang kemudian tersimpan sebagai memori, dan umumnya kemudian mereka mengalami kejadian-kejadian serupa dalam perjalanan hidupnya yang menambah kuat tekanan emosi-emosi tersebut.

Sifat pikiran selalu berusaha hindari pain untuk capai pleasure, maka ketika terjadi suatu peristiwa yang mengandung emosi negatif kuat di masa lalu, ketika suatu kebutuhan emosi positif tidak terpenuhi (umumnya di saat itu juga terbentuk trauma), orang yang mengalami akan terus berusaha mencarinya entah disadari atau tidak.

Contoh nyata dari kasus terapi paling umum yang pernah saya tangani adalah kasus pengusaha sukses (yang saya posting beberapa hari lalu). Dan ini contoh lainnya.

Seorang anak yang pulang sekolah datang dengan riang ke mama nya yang sedang masak di dapur. Si anak membawa kertas ulangan dengan hasil cukup baik 85. Si anak ingin memenuhi kebutuhan emosi dipuji mamanya, karena dengan dipuji dia akan merasa berharga. Namun mamanya yang punya nilai kehidupan pencapaian tinggi dan sempurna untuk kebaikan anaknya kelak, hanya melirik dan berkata : ’mana yang 15 lagi?’ (maksudnya supaya anaknya tidak cepat puas dan bisa terus berkembang).

Disini terjadi pemahaman berbeda di sisi anak, si anak berpikir bahwa untuk bisa dipuji dan sekaligus menyenangkan orang tuanya (memenuhi kebutuhan emosinya, dia harus mencapai nilai sempurna. Di momen tersebut terjadi trauma juga yaitu merasa tidak dihargai dengan hasilnya yang sudah maksimal menurutnya (pain) dan dia kemudian selalu dalam pencarian akan pleasure yaitu kesempurnaan. Karena menurut pikirannya jika dia mencapai pencapaian sempurna maka dia akan merasa berharga dan menyenangkan mamanya. Lalu ada beberapa kejadian spesifik lain yang serupa dalam hidupnya.

Akhirnya dia menjadi wanita karir yang sukses, namun dalam perjalanan hidupnya terjadi suatu pemicu yang membuat dirinya kembali ke trauma masa lalunya. Dan dia merasa begitu tidak berharga dan tidak bisa sempurna lagi seberapapun dia mencobanya. Artinya rasa hampa waktu kebutuhan emosinya tidak terpenuhi sebagai anak-anak kembali lagi, dalam tubuh dewasanya.
Dan rasanya mungkin jauh lebih kuat dari saat mengalaminya karena sudah di akumulasi dengan kejadian-kejadian serupa di dalam perjalanan kehidupannya.

Kasus ini mungkin tidak terlihat ekstrem, dan mungkin juga tidak sampai mendorong seseorang bunuh diri, namun klien saya itu sebagai orang mengalaminya sungguh sangat tersiksa oleh keadaanya saat mengalami masalahnya. Banyak kasus yang terlihat simpel dan serupa seperti ini sampai mendorong seseorang berpikir dan mencoba bunuh diri.

Sifat pikiran selalu berusaha hindari pain untuk capai pleasure, maka di satu titik ketika rasa sakit sudah begitu kuat menumpuk dan tidak bisa dihindari maka, even death is less pain bagi mereka yang mengalami.

Saya tidak pernah mendukung atau setuju orang bunuh diri, namun sebagai terapis yang sudah menangani berbagai macam kasus selama hampir 10 tahun ini, saya sangat bisa memahami perilaku yang didorong emosi dan pemikiran dari pelaku bunuh diri.

Namun sukurlah seberapa kuatnya pun perasaan kita terhadap suatu trauma, atau seberapa kuatnyapun suatu kebutuhan emosi ingin dipenuhi melalui pencapaian apapun, jika suatu saat dirasakan menjadi masalah, maka hal tersebut bisa diubah, bisa dimodifikasi dari alam bawah sadar kita. Dengan ijin dari dirinya sendiri tentunya.

Melalui sesi-sesi terapi, kekuatan trauma-trauma seseorang bisa dinetralkan dengan teknik-teknik tertentu. Juga nilai-nilai kehidupan atau kebutuhan emosi yang sangat kuat ingin dipenuhi melalui suatu keadaan namun tidak kunjung terpenuhi yang dikemudian hari jadi masalah bisa dipenuhi dan dimodifikasi sesuai keinginan seseorang.

Sayang sekali orang-orang yang sudah meninggal karena bunuh diri tidak menyadari suatu fakta bahwa betapapun kuatnya rasa sakit yang mereka hadapi, hal tersebut sungguh bisa dinetralkan dan pemaknaan serta pemahaman mereka terhadap masalah bisa diubah dari alam bawah sadar mereka, sehingga respon mereka menghadapi masalah bisa sangat berbeda.

Mari kita doakan semoga semua orang yang hadapi masalah berat dalam hidup mereka, di aspek apapun juga, bisa menemukan jalan keluar dan menyelesaikan masalahnya dengan baik, serta bisa terpenuhi kebutuhan emosi yang selalu dicarinya.

#justmytwocents
#justsharingmyknowledge

2019-07-21T11:33:08+07:00 Articles, Blogs|