Konflik Batin

/, Blogs/Konflik Batin

‘Saya lelah TAPI dia minta diantar pulang’..

‘Saya takut bicara di depan umum, TAPI saya sering harus presentasi..’

‘Saya engga suka caranya memperlakukan orang lain, sikapnya merendahkan, TAPI sepertinya saat ini hanya dia yang bisa bantu saya’

‘Sebenarnya saya udah engga tahan hidup berumah tangga sama dia TAPI kalau saya cerai orang tua saya bisa sangat terpukul’

Rasanya saya tidak ingin datang ke pesta itu TAPI saya engga enak hati, orang kalau diundang kan harus datang.

Inilah khas pemikiran atau kata-kata yang keluar dari pikiran orang yang alami konflik batin…

Kata TAPI menunjukan bahwa ada minimal 2 SISI DIRI kita yang berbenturan kepentingan.
Yang dimaksud SISI DIRI adalah cluster cluster program pikiran di alam bawah sadar yang masing-masingnya punya isi MEMORI, yaitu trauma untuk dihindari dan nilai kehidupan untuk dicapai.

Jika kita paham, di tiap permasalahan dalam hidup sebenarnya kita sedang mengalami konflik batin. Hampir tidak ada orang yang punya masalah jika tidak ada minimal 2 SISI DIRI berbenturan kepentingan..

Sifat pikiran selalu hindari pain (segala situasi kondisi yang dirasakan tidak nyaman, sebenarnya ini adalah trauma-trauma kita ringan ataupun berat).

Sifat pikiran juga selalu berusaha capai pleasure (keadaan dimana nilai-nilai kehidupan tercapai, misal rasa aman karena uang banyak, rasa berharga karena berprestasi, rasa berguna karena bisa menolong orang, dan lain lain)

Mari kita bahas satu persatu contoh-contoh yang saya berikan di awal tulisan ini. Pain apa yang ingin dihindari dan pleasure apa yang ingin dicapai masing-masing SISI DIRI yang bentrok kepentingan. Semuanya adalah contoh umum dari kasus-kasus nyata yang saya bantu atasi sehari-hari.

‘Saya lelah TAPI dia selalu minta diantar pulang’.. Artinya ada SISI DIRI yang secara fisik lelah berbenturan kepentingan dengan SISI DIRI yang punya nilai kehidupan menolong orang yang minta bantuan.

‘Saya takut bicara di depan umum, TAPI saya sering harus presentasi’. Artinya ada SISI DIRI yang trauma tampil di depan umum berbenturan kepentingan dengan SISI DIRI yang punya nilai kehidupan berhubungan dengan bekerja di tempat tersebut, misal berprestasi dalam pekerjaan.

‘Saya engga suka caranya memperlakukan orang lain, sikapnya merendahkan, TAPI sepertinya saat ini hanya dia yang bisa bantu saya’. Artinya ada SISI DIRI yang trauma diperlakukan buruk misal dilecehkan berbenturan kepentingan dengan SISI DIRI yang sedang alami masalah dan orang tersebut yang bisa membantu, misal masalah finansial.

‘Sebenarnya saya udah engga tahan hidup berumah tangga sama dia TAPI kalau saya cerai orang tua saya bisa sangat terpukul’. Artinya ada SISI DIRI yang terhantam banyak kejadian mengandung emosi negatif karena perilaku pasangannya berbenturan kepentingan dengan SISI DIRI yang punya nilai kehidupan misal patuh pada orang tua atau pantang mempermalukan orang tua atau harus menyenangkan orang tua.

‘Rasanya saya tidak ingin datang ke pesta itu TAPI saya engga enak hati, orang kalau diundang kan harus datang’. Artinya ada SISI DIRI yang punya trauma tertentu dengan situasi kondisi keramaian pesta (atau kumpulan orang ramai) berbenturan kepentingan dengan SISI DIRI yang punya nilai kehidupan harus menghormati orang yang mengundang dengan cara datang kalau diundang.

Tiap SISI DIRI kita dibentuk jauh di masa kecil sampai remaja, di peristiwa-peristiwa spesifik penting dimana emosi yang cukup kuat terlibat, (bisa emosi positif atau negatif) ketika trauma terjadi atau suatu nilai kehidupan dan belief system ditanamkan.
Contoh-contoh di atas tadi adalah contoh kasus kasus umum.

Dalam kasus-kasus terapi yang saya tangani bahkan banyak kasus dimana seseorang sudah mau bunuh diri atau sudah mencoba bunuh diri (namun gagal, sukurlah) TAPI takut dosa.

Artinya ada SISI DIRI yang berisi kumpulan banyak emosi negatif berisis pain yang sudah tidak tahan dihadapi sehingga mati adalah keadaan yang dirasakan sebagai satu-satunya jalan keluar TAPI berbenturan dengan SISI DIRI yang memegang belief system tentang dosa akibat mati bunuh diri (tentang bunuh diri ini saya bahas di tulisan lain lagi).

Namun sekuat dan seribet apapun konflik batin yang dialami seseorang, hal tersebut disebabkan karena emosi-emosi negatif yang terbentuk di peristiwa pembentukan masalah. Dan konflik-konflik SISI DIRI tersebut bisa dibereskan melalui sesi terapi, sehingga konflik batin hilang.

Artinya SISI-SISI DIRI yang tadinya saling berbenturan kepentingan dan pemikiran bisa diselaraskan untuk saling mendukung satu tujuan sesuai kesadaran orang yang mengalami masalah konflik batin tersebut.

#justmytwocents
#justsharingmyknowledge

2019-07-21T11:43:30+07:00 Articles, Blogs|